Cerita Dewasa - Cerita Dewasa, Cerita Malam Pertama Pengantin - Nah kali ini laower
berbagi cerita tentang cerita orang dewasa yang aga kurang beruntung di
malam pertamanya.Mungkin hampir semua orang mendambakan malam pertama pengantin
barunya, menjadi momen yang berharga dalam hidupnya. Namun dalam hal
ini ada juga sebagian orang yang malam pertama nya gagal menjalaninya
dan menjadi terutama, yang kemudian mengalami masalah seksual akibat
trauma hubungan seksual yang pertama kalinya.
Seperti salah seorang wanita 26 tahun, selama dua tahun menikah terpaksa
harus membohong pada suaminya setiap kali melakukan hubungan seksual.
Suatu tindakan bohong yang sebenarnya tergolong konyol karena sang suami
yang seorang sarjana tidak mengetahui apa yang telah dilakukan istrinya
setiap kali melakukan hubungan seksual. Ternyata hubungan seksual yang
mereka lakukan adalah hubungan anal seks, yang sengaja dilakukan oleh
sang istri sementara suaminya tidak mengetahui.
Masalahnya, sang istri mengalami suatu gangguan fungsi seksual yang
disebut vaginismus, yaitu suatu kekejangan abnormal otot vagina dan
sekitarnya sehingga hubungan seksual tidak mungkin dilakukan. Apa
sesungguhnya yang menyebabkan gangguan itu?
Inilah peristiwa seksual yang dialami ketika pertama kali wanita itu
melakukan hubungan seksual. Peristiwa itu terjadi pada malam pertama,
ketika suaminya dengan sangat bergairah dan tergesa-gesa melakukan
hubungan seksual, seolah-olah tidak memberi kesempatan kepadanya untuk
sekadar berbaring dulu menikmati aroma malam pengantin. Dia yang saat
itu tidak siap dan tidak terangsang, mengalami rasa sakit yang cukup
menyiksa. Keadaan ini, yang diperparah oleh rasa ngeri melihat bercak
darah, telah membekas sangat dalam di dalam dirinya. Kemudian hari-hari
selanjutnya, bukan kemanisan bulan madu yang ia nikmati, melainkan
penderitaan, setiap kali suaminya mendekat dan melakukan hubungan
seksual.
Pengalaman malam pertama itu benar-benar merupakan trauma seksual bagi
wanita itu. Ternyata hubungan seksual tidaklah seindah apa yang
dibayangkan sebelumnya. Akibatnya ternyata cukup menyedihkan dan
berkepanjangan. Selama dua tahun perkawinan itu ia cukup menderita
setiap kali melakukan hubungan seksual. Setiap kali melakukannya, ia
merasa ketakutan, yang kemudian harus dilanjutkan dengan kebohongan
berupa hubungan anal seks yang ternyata tidak diketahui oleh sang suami.
Kini, setelah dua tahun menikah, wanita itu mulai bosan dan jengkel
dengan apa yang dilakukan dan disembunyikan dari suaminya. Dia juga
ingin menikmati kehidupan seksual yang normal. Lebih dari itu, muncul
masalah lain karena sang suami, sering bertanya mengapa kehamilan tak
kunjung datang. Jawabannya tentu saja sangat mudah: mana mungkin terjadi
kehamilan kalau hubungan seksual selalu berlangsung secara anal seks.
Kini dia justru pusing bagaimana harus menjawab pertanyaan suami,
mengapa kehamilan tak kunjung datang. Dia tidak dapat membayangkan
bagaimana reaksi sang suami kalau dia harus berterus terang bahwa
hubungan yang selama ini dilakukan adalah hubungan anal seks.
Ternyata trauma seksual pertama kali bukan hanya dialami oleh wanita,
melainkan juga pria. Pengalaman seksual pertama kali yang kemudian
berakibat buruk dialami pula oleh pasien saya yang lain, seorang
laki-laki berusia 30 tahun. Pada malam pengantin nya, sang istri yang
memang sudah berpengalaman seksual sebelumnya, mengeluh karena pria itu
terlalu cepat mengalami ejakulasi sehingga ia tidak merasa puas. Pria
yang memang belum pernah melakukan hubungan seksual itu, benar-benar
merasa terpukul dan malu, di samping kecewa dan tidak berdaya.
Hari-hari selanjutnya, bagai di dalam neraka bagi pasangan suami-istri
itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Pria itu mengalami impotensi, dan
tentu saja istrinya pusing kepala. Maka kacaulah suasana pengantin baru
itu. Bahkan gangguan fungsi seksual itu tetap berlanjut sampai setahun
kemudian, sampai dia datang ke klinik saya.
Kedua kasus ini hanya sekadar contoh betapa pentingnya pengalaman
seksual pertama kali, atau pada malam pengantin, atau pada masa bulan
madu. Banyak lagu atau kisah cinta yang mengumandangkan kemesraan
suami-istri pada malam pengantin atau pada masa bulan madu. Masa ini
adalah masa awal pernikahan sejak malam pengantin, yang diharapkan oleh
pasangan pengantin baru sebagai masa yang penuh kemesraan. Tetapi
ternyata tidak sedikit pengantin baru yang tidak menikmati kemanisan dan
keindahan masa bulan madu. Kedua kasus di atas merupakan contoh yang
jelas. Bagi mereka, masa bulan madu hanyalah impian pengarang lagu dan
kisah cinta. Bahkan malam pengantin dan masa bulan madu merupakan masa
yang menyakitkan, yang berakibat sangat panjang dan melelahkan.
Pengalaman seksual pada malam pertama memang perlu diperhatikan oleh
pengantin baru. Suami-istri yang sama-sama belum berpengalaman secara
seksual, tentu memerlukan waktu untuk mengerti dan merasakan nilai
hubungan seksual sebagai suatu bentuk komunikasi yang paling dalam. Dan
inilah nilai moral secara umum yang masih berlaku di masyarakat kita,
walaupun tidak dapat dibantah bahwa hubungan seksual sebelum menikah
telah banyak terjadi.
Seorang suami harus memaklumi kecemasan dan ketakutan seorang istri yang
belum pernah melakukan hubungan seksual, pada malam pengantin. Maka
suami harus mampu menahan diri sambil menciptakan suasana erotik, dan
memberikan rangsangan seksual yang cukup efektif agar sang istri
benar-benar menjadi siap, baik secara fisik maupun psikis. Dalam keadaan
cukup terangsang dan siap secara total, sang istri tidak akan diganggu
oleh rasa sakit. Atau kalau pun masih muncul rasa sakit, akan diterima
sebagai sesuatu yang wajar, bukan sebagai sesuatu yang menyiksa.
Demikian pula dengan kegiatan hubungan seksual, dapat diterima dan
dilakukan sebagai suatu kebutuhan dan ekspresi cinta suami-istri. Kesan
yang membekas di hati istri akan sangat berbeda kalau sang suami
melakukannya semata-mata berdasar atas dorongan seksualnya sendiri tanpa
memperhatikan kesiapan istrinya, baik secara fisik maupun psikis.
Sebaliknya, kalau istri telah berpengalaman sedang sang suami “masih
perawan”, maka istri diharapkan dapat memaklumi ketidakharmonisan yang
terjadi pada malam pertama. Di sini sang istri dituntut bersabar,
memberi waktu kepada suaminya agar memahami bagaimana hubungan seksual
yang sebenarnya. Ketidaksabaran istri dapat menimbulkan akibat yang
tidak diinginkan pada sang suami. Kasus suami di atas merupakan contoh
jelas tentang ketidaksabaran atau sikap tidak menyenangkan di pihak
istri, yang berakibat buruk terhadap seksualitas suami. Dan lebih
menyedihkan, itu terjadi pada malam pengantin.
Berbeda dengan suami-istri yang sebelumnya telah berpengalaman secara
seksual, terlepas dari norma moral atau agama yang ada. Dengan
pengalaman itu, tentu mereka tidak terlalu banyak mengalami masalah pada
malam pengantin. Paling tidak, bila dibandingkan dengan mereka yang
belum berpengalaman sama sekali. Ini dapat dimengerti, karena kegiatan
hubungan seksual sebenarnya adalah suatu proses belajar juga. Tidak
benar hubungan seksual disebut sebagai kegiatan yang bersifat alamiah,
artinya bukan hasil belajar.
Tetapi bukan berarti pasangan yang sudah lama menikah atau sudah lama
berpengalaman dalam melakukan hubungan seksual pasti mengerti benar
tentang seksualitas. Ini terbukti dari banyaknya pasangan suami-istri
yang telah lama menikah tetapi gagal membina kehidupan seksual yang
harmonis karena ketidakmengertian tentang seksualitas, baik seksualitas
dirinya maupun lawan jenisnya.
Hubungan seksual yang berlangsung benar dan harmonis adalah hasil suatu
proses belajar yang didasarkan atas pengetahuan seksualitas yang benar
pula. Lalu apakah ini berarti, orang harus berpengalaman seksual dulu
sebelum menikah? Tentu saja tidak harus demikian, karena ada nilai-nilai
yang mengatur hubungan seksual antarmanusia. Maka akan sangat
bermanfaat dan sangat membantu bila pasangan suami-istri dibekali dengan
pendidikan seks sebelumnya. Tentu saja materinya disesuaikan dengan
usia dan kebutuhan mereka sebagai orang dewasa, calon pengantin.
Memang terasa janggal kalau sepasang pengantin baru memasuki kamar
pengantin, tetapi tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan mereka
lakukan. Salah-salah, akibat buruk yang terjadi, seperti pada kedua
kasus di atas.
Pendidikan seks khusus untuk orang dewasa atau calon pengantin dapat
diberikan dalam bentuk satu paket kursus, yang membahas tentang
seksualitas laki-laki dan perempuan. Teknik melakukan hubungan seksual
merupakan sebagian materi khusus itu. Dengan demikian, pengantin baru
memiliki pengetahuan yang cukup tentang seksualitas dirinya dan lawan
jenisnya, dan tentu saja tentang apa yang mereka lakukan pada malam
pertama. Materi pendidikan seks untuk orang dewasa ini tentu saja sangat
berbeda dengan materi pendidikan seks untuk remaja, apalagi untuk
anak-anak.
Dengan memiliki pengetahuan yang benar tentang seksualitas diri sendiri
dan lawan jenisnya, hubungan seksual pertama kali akan berlangsung lebih
baik walaupun mungkin belum seperti yang diharapkan. Tetapi paling
tidak, trauma seksual dapat dihindari sehingga tidak terjadi akibat
buruk seperti yang dialami oleh kedua kasus di atas. Selanjutnya melalui
proses belajar pasangan itu harus berusaha membina kehidupan seksualnya
agar berlangsung harmonis.
Walaupun demikian, bukan berarti gangguan seksual tidak akan terjadi
sama sekali. Gangguan fungsi seksual yang menimbulkan ketidakharmonisan
dalam hubungan seksual, mungkin saja terjadi mengingat faktor
penyebabnya bervariasi. Kalau ini terjadi diharapkan pasangan itu
menyadari, gangguan yang ada harus dilenyapkan agar dapat dicapai
kehidupan seksual yang harmonis.
Penyebab terbesar wanita menjadi sedingin es adalah faktor psikis.
Umumnya, masalah psikoseksual merupakan awal mula frigiditas, sebaliknya
jarang sekali medis.
Banyak masalah yang membuat wanita menjadi sedingin es. Seorang wanita
tidak serta-merta menjadi dingin. Bisa saja sebelumnya kehidupan
intimnya baik-baik saja.
Frigiditas bisa timbul di tengah pernikahan karena suatu perasaan kecewa
yang berat terhadap pasangan, merasa dikhianati, atau ada kemarahan
yang ditutupi.
Laki Laki dan Wanita diciptakan memang sedemikian berbeda, sehingga
dalam Hubungan Seksualitas Suami Istri pun banyak perbedaan, tetapi
justru dengan perbedaan antara keduanya inilah akan tercipta harmonisasi
Hubungan Seksualitas Suami Istri. Pria cenderung mempunyai orientasi
fisik, sementara wanita lebih kepada hubungan (relasional).
Wanita bisa lebih terangsang melalui perasaan, bau bau an, sentuhan
lembut, dan kata-kata mesra, sedangkan pria bisa terangsang dengan
bentuk serta penglihatan mereka. Wanita biasanya menginginkan seks lebih
jarang. Para pria sering menginginkan Hubungan Seksualitas Suami Istri
kapan saja dan dimana saja, memiliki respon seksual yang cepat dan susah
terganggu. sementara wanita mempunyai respon seksual yang sedikit lebih
lama dan lebih gampang terganggu dengan suasana dan lingkungan
sekitarnya.
Jadi, bagi para suami ingatlah bahwa wanita pasangan Anda memberikan
respon pada apa yang mereka rasakan. Sehingga untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas Hubungan Seksualitas Suami Istri sering-seringlah
menambah ‘deposit’ dalam rekening emosional pasangan untuk
mempertahankan kedekatan yang akan memberikan dorongan kepada dia
sehingga lebih mudah “tersambung” dengan anda secara seksual.
Untuk para istri, perlu selalu diingat bahwasanya pria merespon apa yang
dia lihat, jadi alangkah baiknya bila wanita/istri memperhatikan
penampilan sehingga bisa meningkatkan menjaga daya tarik anda terhadap
pria. Hubungan Seksualitas Suami Istri yang berkualitas adalah hal yang
penting dalam hubungan pernikahan yang bahagia, karena Hubungan
Seksualitas Suami Istri menimbulkan reaksi-reaksi dalam otak pria dan
wanita, yang memperkuat ikatan antara pasangan suami istri. Semoga
Hubungan Seksualitas Suami Istri Anda dan pasangan bisa menjadi lebih
baik dan berkualitas lagi.
Semoga bisa bermanfaat bagi anda Artikel Cerita Dewasa, Cerita Malam Pertama Pengantin.
Home »
OBAT PEMBESAR PENIS
» Cerita Dewasa, Cerita Malam Pertama Pengantin
Cerita Dewasa, Cerita Malam Pertama Pengantin
Posted by pusatdewasa
Posted on 13.22
with No comments




0 komentar:
Posting Komentar