CERITA SEX DEWASA | Cerita Mesum: 3 in 1
Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru pulang dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aku.
Kalau aku tidak keluar rumah,
Idang anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya sahabatku,
demikian pikirku. Aku sambut gembira atas kebaikan hatinya, aku memang
jarang keluar rumah dan aku menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya.
Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku tidak akan keluar rumah untuk menunggu si
Idang, yang seingatku sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa
dengannya.
Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah
Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah
“Selamat
siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny
teman saya, Tante”. Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan
mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny
dan langsung aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona
saat melihat anak Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu.
Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak
sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah
pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman
sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka
jadi subur. Mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk
mereka.
Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya.
Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya.
Kami
jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang
dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini
karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang
sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai
perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali
hadir.
Mungkin hal ini
disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan memberikan celah
padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda.
Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan
hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari
hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat
menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung
terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku
itu.
“Tante, jangan ngelamun.
Cicak jatuh karena ngelamun, lho”. Kami kembali terbahak mendengar
kelakar Idang. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada
bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini. Dan aku tidak heran kalau
anak-anak muda macam Donny dan Idang ini demen menikmati penampilanku.
Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku tetap “fresh” dan “good
looking”. Aku memang suka merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang
tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku
jalan sama Oke, suamiku, banyak yang mengira aku anaknya atau bahkan
“piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang.
Dan
suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia
berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi
iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi
rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda
untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua
anak ini.
“Hai, bagaimana kalau
kalian makan siang di sini. Aku punya resep masakan yang gampang,
cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh
majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa main game, internet
atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang ‘enggak-enggak’, ya..”, aku
tawarkan makan siang pada mereka.
Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku tahu mata
Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi. Si Idang ngikut
saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer aku ke dapur
mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu
Donny sudah berada di belakangku. Dia menanyaiku, “Tante dulu teman
kuliah mamanya Idang, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.
“Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny.
“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.
“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.
“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang”, lanjutnya sambil melototi pahaku.
“Tante hobbynya apa?”.
“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.
“Ooo, pantesan”.
“Apa yang pantesan?”, sergapku.
“Pantesan body Tante masih mulus banget”.
“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.
“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.
“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang”, lanjutnya sambil melototi pahaku.
“Tante hobbynya apa?”.
“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.
“Ooo, pantesan”.
“Apa yang pantesan?”, sergapku.
“Pantesan body Tante masih mulus banget”.
Kurang
asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk mendapatkan
peluang melontarkan kata-kata “body Tante masih mulus banget” pada
tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan Donny ini.
Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr.., libidoku
muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aku merasa ada yang bergerak
maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke aku dan
punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.
“Ah, mata kamu saja yang keranjang”, jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.
“Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.
“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.
Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.
“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.
Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.
“Memangnya pinter dengan sendirinya?”, lanjutku yang kepingin terjebak lagi.
“Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.
Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.
“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?”, jawabku lebih progresif.
“Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.
Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.
“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?”, jawabku lebih progresif.
“Hoo, bener sayang, nih?”, sigap Donny.
“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.
“Sudah sana, temenin si Idang tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.
“Si Idang, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.
“Kalau kamu?”, sergahku kembali.
“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.
“Sudah sana, temenin si Idang tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.
“Si Idang, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.
“Kalau kamu?”, sergahku kembali.
“Kalau saya, action, Tante sayang”, balas sayangnya.
“Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”, ujarku sambil memukulnya dengan manis.
“Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”, ujarku sambil memukulnya dengan manis.
“Oo, beres, Tante sayang”, dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.
Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.
“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?”.
Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.
“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?”.
Kurang
asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit
pinggangnya keras-keras hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya
melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya
itu. Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia
melihat ke mataku. Ah, pandangannya itu membuat aku gemetar. Akankah
dia berani berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa aku juga
merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak
hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?
Aku
tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Donny sudah mendarat di
bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan
tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih kepalanya serta
mengelusi rambutnya. Dan tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk
ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian
meremasi payudaraku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat yang tak
terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia
anakku, 22 tahun di bawah usiaku.
“Tante,
aku nafsu banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body Tante. Aku
pengin menjilati body Tante. Aku ingin menjilati nonok Tante. Aku
ingin ngentot Tante”. Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok Donny
melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang hebat.
Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada
jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng
banget.
Kuputar-putar pinggulku
untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi. Donny mengerang.Dengan
tidak sabaran dia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih
menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat ke ketiakku. Dia lumati
habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku merasakan nikmat di
sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia
melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke dadaku.
Dia
kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia
isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya
terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya. Sementara itu
tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan
kancing-kancing kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aku tak mampu
mengelak dan aku memang tak akan mengelak. Birahiku sendiri sekarang
sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan
menghanyutkan aku. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih
menanggung derita dan siksa nikmat birahiku.
Begitu
hotpants-ku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok menciumi
celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dengan
nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana
dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan
kelentitku. Aku jadi ikutan tidak sabar.
“Donny, Tante udah gatal banget, nih”.
“Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan”.
Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku.
“Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan”.
Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku.
“Tante,
aku pengin ngentot memek Tante sekarang”. Aku tidak tahu maunya, belum
juga aku puas mengulum kontolnya dia angkat tubuhku. Dia angkat satu
kakiku ke meja dapur hingga nonokku terbuka. Kemudian dia tusukkannya
kontolnya yang lumayan gede itu ke memekku.
Aku
menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak
nyenggol-nyenggol aku. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang golflah.
Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku. Kini
kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti
dan semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar
lagi spermanya pasti muncrat, sementara aku masih belum sepenuhnya puas
dengan entotannya.
Aku harus
menunda agar nafsu Donny lebih terarah. Aku cepat tarik kemaluanku dari
tusukkannya, aku berbalik sedikit nungging dengan tanganku bertumpu
pada tepian meja. Aku pengin dan mau Donny nembak nonokku dari arah
belakang. Ini adalah gaya favoritku. Biasanya aku akan cepat orgasme
saat dientot suamiku dengan cara ini. Donny tidak perlu menunggu
permintaanku yang kedua. kontolnya langsung di desakkan ke mem*kku yang
telah siap untuk melahap kontolnya itu.
Nah,
aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih
mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap
tusukan kont*lnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.
Selintas
terpikir olehku, di mana si Idang. Apakah dia masih berkutat dengan
komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam
ayunan kont*lnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny
berteriak.
“Dang, Idang, ayoo, bantuin aku .., Dang..”.
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny
“Gue kebagian apanya Don?’
“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.
Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.
“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.
Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.
Aku
melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan
tenangnya Idang mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku
dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa
hormat padaku yang adalah teman mamanya itu, untuk kemudian ditariknya
mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya.
kontol Idang nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar
diujung batangnya.
Saat bibirku
disentuhkannya aroma kontolnya menyergap hidungku yang langsung membuat
aku kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh
kegilaan aku lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya,
pangkalnya, biji pelernya. Tangan Idang terus mengendalikan kepalaku
mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku
memompa, terkadang dia tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau
pelirnya agar aku menjilatinya.
Duh,
aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa.
Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan kontolnya
keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya mengutik-utik dan
disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah aku mengalami
cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki konvensional.
Saat
dia menggauliku dia lakukan secara konvensional saja. Sehingga saat
aku merasakan bagaimana perbuatan teman dan anak sahabatku ini aku
merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat melanda aku. Kini 3
lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka.
Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku
untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny dan
mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kontol Idang.
“Ah,
Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku. Enak, kan?
Sama kontol Oom enak mana? N’tar Tante pasti minta lagi, nih”.
Dia
percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah membusa keluar
dai mulutku. kontol Idang sudah sangat kuyup. Sesekali aku berhenti
sessat untuk menelan ludahku.
Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, “Aku mau keluar nih, Tante. Keluarin di memok atau mau diisep, nih?”.
Ah,
betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar
teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya, aku
buru-buru lepaskan kontol Idang dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat
jongkok sambil mengangakan mulutku tepat di ujung kontol Donny yang
kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kont*lnya untuk mendorong agar
air maninya cepat keluar.
Kudengar
mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Tante, minum ya, minum,
nih, Tante, minum ya, makan spermaku ya, Tante, makan ya, enak nih,
Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..”.
Air
mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku.
Sebagian lain nampak mengalir di batang dan tangannya. Yang masuk
mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang
dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula.
Kemudian
dengan jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian
disodorkannya ke mulutku yang langsung kulumati jari-jarinya itu.
Ternyata saat Idang menyaksikan apa yang dikerjakan Donny dia nggak
mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kontolnya. Dan beberapa saat
sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul kontol Idang
memuntahkan banyak spermanya ke mulutku. Aku menerima semuanya
seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang
berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Idang
sangat gurih seperti air kelapa muda.
Dasar
anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat aku
istirahat mereka mengajak aku ke ranjang pengantinku. Mereka nggak mau
tahu kalau aku masih mengagungkan ranjang pengantinku yang hanya Oke
saja yang boleh ngentot aku di atasnya. Setengahnya mereka
menggelandang aku memaksa menuju kamarku.
Aku
ditelentangkannya ke kasur dengan pantatku berada di pinggiran
ranjang. Idang menjemput satu tungkai kakiku yang dia angkatnya hingga
nempel ke bahunya. Dia tusukan kontolnya yang tidak surut ngacengnya
sesudah sedemikian banyak menyemprotkan sperma untuk menyesaki memekku,
kemudian dia pompa kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke
atas, ke bawah dengan penuh irama.
Aku
merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan aku langsung
menggelinjang dahsyat. Pantatku naik turun menjemput tusukan-tusukan
kontol legit si Idang. Sementara itu Donny menarik tubuhku agar kepalaku
bisa menciumi dan mengisap kontolnya. Kami bertiga kembali mengarungi
samudra nikmatnya birahi yang nikmatnya tak terperi.
Hidungku
menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Donny. Jilatan
lidah dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Donny.
Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Donny kuraih
ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke kasur dan membuat
posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah tangan Donny meraih dan
meremasi susu-susu dan pentilku.
Sementara
hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku tepat di
bawah akar pangkal kontolnya yang keras menggembung. Aku
menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil
tangan kananku ke atas untuk ngocok kontol Donny. Duh, aku kini
tenggelam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Aku menjadi kesetanan
menjilati celah pantat Donny.
Aroma
yang menusuk dari pantatnya semakin membuat aku liar tak terkendali.
Sementara di bawah sana Idang yang rupanya melihat bagaimana aku begitu
liar menjilati pantat Donny langsung dengan buasnya menggenjot nonokku.
Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,
“Tante,
nonokmu enak, Tante, nonokmu aku entot, Tante, nonokmu aku entot, ya,
enak, nggak, heh?, Enak ya, kontolku, enak Tante, kontolku?”. Aku juga
membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang sangat dahsyat. Dan
ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam kemaluanku.
Aku
tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku
semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan
tanganku pada kontol Donny semakin kencang. Naik-naik pantatku
menjemputi kontol Idang semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat,
cepat.
Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang masih semakin kencang menusukki nonokku. Dan aku memang tahu bahwa Idang juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yang sejak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.
Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang masih semakin kencang menusukki nonokku. Dan aku memang tahu bahwa Idang juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yang sejak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.
Sementara
Donny yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau agar aku
mempercepat kocokkan kontolnya sambil tangannya keras-keras meremasi
buah dadaku hingga aku merasakan pedihnya. Dan saat puncaknya itu
akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku untuk dia kocok sendiri
kontolnya dengan kecepatan tinggi hingga spermanya muncrat semburat
tumpah ke tubuhku.
Aku yang tetap
penasaran, meraih batang yang berkedut-kedut itu untuk kukenyoti,
mulutku mengisap-isap cairan maninya hingga akhirnya segalanya reda.
Jari-jari tanganku mencoleki sperma yang tercecer di tubuhku untuk aku
jilat dan isap guna mengurangi dahaga birahiku.
Sore
harinya, walaupun aku belum sempat merasakan getuk kirimannya yang
kini berada dalam lemari esku dengan penuh semangat dan terima kasih
aku menelepon Yenny.
“Wah,
terima kasih banget atas kirimannya, ya Yen. Karena sudah lama aku
tidak merasakannya, huh, nikmat banget rasanya. Ada gurihnya, ada
manisnya, ada legitnya”, kataku sambil selintas mengingat kenikmatan yang aku raih dari Idang anaknya dan Donny temannya.
Yenny
tertawa senang sambil menjawab, “Nyindir, ya. Memangnya kerajinan
tanduk dari Pucang (sebuah desa di utara Magelang yang menjadi pusat
kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu itu. N’tar
deh kalau aku pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu”.
Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mati aku, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan getuk kesukaanku.




0 komentar:
Posting Komentar